Renungan hari ini: “MEMILIH HIDUP DENGAN BERPAUT PADA SUMBERNYA” (Ulangan 30:19-20 - TB2)

Renungan hari ini:

 

“MEMILIH HIDUP DENGAN BERPAUT PADA SUMBERNYA”


 

Ulangan 30:19-20 (TB2) “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: Kuperhadapkan kepadamu kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya. Sebab, Dialah hidupmu dan yang membuat kamu lama tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, benek moyangmu untuk diberikan kepada mereka"

 

Deuteronomy 30:19-20 (NET) “Today I invoke heaven and earth as a witness against you that I have set life and death, blessing and curse, before you. Therefore choose life so that you and your descendants may live! I also call on you to love the Lord your God, to obey him and be loyal to him, for he gives you life and enables you to live continually in the land the Lord promised to give to your ancestors Abraham, Isaac, and Jacob”

 

Nas hari ini mengajak kita untuk “Memilih Hidup dengan Berpaut pada Sumbernya” Hidup adalah serangkaian pilihan. Dari hal-hal kecil seperti apa yang akan kita makan, hingga keputusan besar seperti karir atau pasangan hidup. Namun, dalam kitab Ulangan, Musa menyampaikan pilihan yang paling mendasar dan menentukan bagi bangsa Israel—dan juga bagi kita hari ini: Pilihan antara kehidupan dan kematian, antara berkat dan kutuk.

 

Ada tiga pesan penting yang bisa kita petik dari nas ini:

 

Pertama, kebebasan yang bertanggungjawab. Tuhan tidak menciptakan kita seperti robot yang diprogram secara otomatis. Ia memberikan kita kehendak bebas. Ia memaparkan dengan sangat jelas konsekuensi dari setiap pilihan kita. Langit dan bumi dipanggil sebagai saksi, menunjukkan betapa seriusnya perjanjian ini. Tuhan sangat merindukan kita memilih "kehidupan," tetapi Ia menyerahkan keputusan itu di tangan kita. Memilih kehidupan berarti memilih untuk berjalan di jalan Tuhan, sementara memilih kematian berarti memilih jalan sendiri yang jauh dari perlindungan-Nya.

 

Kedua, makna "Memilih Kehidupan". Bagaimana cara kita "memilih kehidupan" secara praktis? Ayat 20 memberikan tiga langkah konkret:

  • Mengasihi Tuhan: Hidup kita harus didasarkan pada hubungan kasih, bukan sekadar ketakutan akan hukum.
  • Mendengarkan suara-Nya: Kita memberikan telinga dan hati untuk dibimbing oleh firman-Nya di tengah hiruk-pikuk suara dunia.
  • Berpaut pada-Nya: Kata "berpaut" (Ibrani: dabaq) berarti menempel erat atau melekat, seperti seorang anak yang memegang erat tangan ayahnya. Kita sadar bahwa tanpa melekat pada Tuhan, kita akan jatuh.

 

Ketiga, dampak lintas Generasi. Pilihan kita tidak hanya berdampak pada diri kita sendiri. Tuhan berkata, "pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu." Keputusan kita hari ini untuk setia kepada Tuhan akan membangun warisan rohani bagi anak dan cucu kita. Sebaliknya, ketidaksetiaan kita dapat meninggalkan "jejak kutuk" atau pola hidup yang salah bagi generasi setelah kita. Ketaatan adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan bagi masa depan keturunan kita.

 

Bagian yang paling indah adalah pernyataan: "Sebab, Dialah hidupmu." Kehidupan sejati bukanlah tentang kesehatan fisik atau harta benda semata. Kehidupan sejati adalah Tuhan itu sendiri. Jika kita memiliki Tuhan, kita memiliki kehidupan, meskipun dunia di sekitar kita sedang goyah. Tanpa Dia, kita mungkin secara fisik hidup, tetapi secara rohani mati.


Hari ini, pilihan apa yang ada di depan Anda? Apakah pilihan itu membawa Anda semakin mengasihi Tuhan, atau justru membuat Anda menjauh dan berhenti mendengarkan suara-Nya? Karena itu, mari kita memilih kehidupan setiap hari—dalam kata-kata kita, dalam integritas kerja kita, dan dalam sikap hati kita—dengan cara terus melekat erat kepada-Nya. (rsnh)

 

Selamat berakhir pekan dan besok kitab beribadah kepada TUHAN

Komentar