Renungan hari ini: “KETIKA AIR MATA BERHENTI MENGALIR” (Wahyu 21:4 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“KETIKA AIR MATA BERHENTI MENGALIR”


 

Wahyu 21:4 (TB2) “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu"

 

Revelation 21:4 (NET) “He will wipe away every tear from their eyes, and death will not exist any more – or mourning, or crying, or pain, for the former things have ceased to exist”

 

Nas hari ini bertemakan “Ketika Air Mata Berhenti Mengalir.” Dunia tempat kita tinggal saat ini adalah dunia yang penuh dengan "air mata." Ada air mata karena kehilangan orang yang dicintai, air mata karena penyakit yang tak kunjung sembuh, air mata karena dikhianati, atau air mata karena kerasnya perjuangan hidup. Kadang-kadang, kita merasa seolah-olah penderitaan adalah tamu yang enggan pergi dari hidup kita.

 

Namun, Wahyu 21:4 memberikan sebuah visi yang sangat indah tentang masa depan kita bersama Tuhan. Rasul Yohanes memperlihatkan akhir dari sejarah manusia bagi mereka yang setia kepada Kristus.

 

Ada tiga janji luar biasa dalam ayat ini:

 

Pertama, sentuhan pribadi Tuhan (Menghapus Air Mata). Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa air mata akan "kering dengan sendirinya." Dikatakan bahwa "Ia (Tuhan) akan menghapus segala air mata." Ini menunjukkan sisi Tuhan yang sangat lembut dan personal. Seperti seorang ibu yang mengusap pipi anaknya yang menangis, Tuhan sendiri yang akan menyentuh kita dan melenyapkan penyebab kesedihan kita. Ia tahu setiap tetes air mata yang pernah jatuh, dan Ia akan memastikan tidak ada lagi alasan untuk menangis di rumah-Nya yang baru.

 

Kedua, kematian maut (Maut tidak akan ada lagi). Musuh terbesar manusia adalah kematian (maut). Maut adalah pencuri kebahagiaan dan pemutus hubungan. Namun, janji Tuhan sangat tegas: di dalam langit dan bumi yang baru, maut telah dikalahkan sepenuhnya. Kematian tidak lagi memiliki kuasa atau sengat. Hidup yang Tuhan berikan adalah hidup yang kekal, sebuah kehidupan di mana perpisahan tidak akan pernah terjadi lagi.

 

Ketiga, kepunahan dukacita (Segala sesuatu yang lama berlalu). Dukacita, perkabungan, dan ratap tangis disebut sebagai "hal-hal yang lama." Artinya, penderitaan yang kita alami sekarang bersifat sementara. Semua itu memiliki "tanggal kedaluwarsa." Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang benar-benar baru, di mana penderitaan bahkan tidak akan diingat lagi karena kemuliaan dan sukacita yang tersedia jauh melampaui segala rasa sakit yang pernah ada.


Bisa saja hari ini mata kita masih basah oleh air mata. Disebabkan beban hidup terasa begitu menyesakkan. Renungan ini bukan bermaksud mengabaikan rasa sakit kita, melainkan memberi kita perspektif. Penderitaan kita saat ini bukanlah akhir dari cerita hidup kita. Bagi orang percaya, akhir dari segalanya adalah sukacita yang tak terkatakan. Teruslah bertahan, teruslah setia, karena "Tangan" yang memegang seluruh alam semesta ini adalah Tangan yang sama yang suatu hari nanti akan menghapus air mata dari pipi kita.

 

Apa yang menjadi relevansi nas ini bagi kita? Berikut adalah 3 relevansi utamanya bagi kita sekarang:

 

Pertama, memberikan "Daya Tahan" (Resiliensi) di tengah krisis. Kita hidup di zaman yang penuh dengan tekanan mental, ketidakpastian ekonomi, dan penderitaan fisik. Tanpa pengharapan, penderitaan bisa membuat kita putus asa dan kehilangan semangat hidup. Nas ini berfungsi sebagai "jangkar pengharapan." Mengetahui bahwa penderitaan memiliki "titik akhir" ( expired date ) membantu kita untuk tidak menyerah hari ini. Relevansinya bagi kita adalah: penderitaan yang kita alami sekarang—seberat apa pun itu—hanya bersifat sementara (transit), sedangkan sukacita yang sedang kita tuju bersifat kekal (tujuan akhir). Ini memberi kita kekuatan untuk tetap bertahan satu hari lagi.

 

Kedua, meyakinkan kita akan empati Tuhan yang sangat dekat. Banyak orang merasa Tuhan itu jauh atau tidak peduli ketika mereka sedang menangis atau berduka. Kalimat "Ia akan menghapus segala air mata" menunjukkan bahwa Tuhan bukanlah penguasa yang dingin atau berjarak. Tindakan menghapus air mata adalah tindakan yang sangat intim dan pribadi. Relevansinya bagi kita sekarang adalah: Tuhan tidak meremehkan rasa sakit kita. Jika Ia berjanji akan menghapus air mata kita kelak, itu berarti Ia melihat dan menghargai setiap tetes air mata kita hari ini. Dia adalah Allah yang turut merasakan apa yang kita rasakan.

 

Ketiga, memotivasi kita untuk menjadi "Agen Penghiburan" sekarang. Jika kita tahu bahwa visi masa depan Tuhan adalah dunia tanpa air mata dan tanpa maut, maka sebagai pengikut-Nya, kita dipanggil untuk membawa "atmosfer surga" itu ke bumi sekarang juga. Kita tidak hanya duduk diam menunggu surga. Relevansinya bagi kita adalah panggilan untuk mengurangi air mata orang lain hari ini. Kita bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menghibur mereka yang berduka, menolong yang sakit, dan memberikan harapan bagi yang putus asa. Kita belajar untuk membenci hal-hal yang Tuhan benci (kematian, dukacita, ketidakadilan) dan mengusahakan apa yang Tuhan cintai (damai sejahtera dan kesembuhan).


Nas ini relevan sebagai obat bagi keputusasaan, bukti kedekatan Tuhan, dan panggilan untuk peduli. Karena itu, Wahyu 21:4 mengingatkan bahwa kita bukan sedang berjalan menuju "kegelapan yang semakin pekat", melainkan menuju "fajar yang abadi". (rsnh)

 

Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN

Komentar