“INISIATIF KASIH: MENJADI PELOPOR KEBAIKAN”
Lukas 6:31 (TB2) “Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka”
Luke 6:31 (NET) “Treat others in the same way that you would want them to treat you”
Nas ini mengingatkan kita akan “Inisiatif Kasih: Menjadi Pelopor Kebaikan.” Dunia sering kali mengajarkan prinsip "timbal balik" atau hukum sebab-akibat yang bersifat reaktif. Jika orang lain baik kepada kita, kita akan baik kepadanya. Jika orang lain menyakiti kita, wajar jika kita menjauh atau membalasnya. Namun, Yesus Kristus menawarkan sebuah standar moral yang jauh lebih tinggi dan revolusioner, yang sering kita kenal sebagai "Etika Emas" (The Golden Rule).
Dalam Lukas 6:31, Yesus tidak mengatakan, "Tunggulah sampai orang berbuat baik kepadamu, baru kamu membalasnya." Sebaliknya, Ia memerintahkan kita untuk mengambil inisiatif. Ada tiga pelajaran yang kita temukan dalam nas ini:
Pertama, mengubah Fokus dari "Saya" menjadi "Sesama". Secara naluriah, kita sangat tahu bagaimana kita ingin diperlakukan. Kita ingin dihormati, didengarkan, dimaafkan saat salah, dan dibantu saat sulit. Yesus mengajak kita menggunakan "keinginan untuk diperlakukan baik" itu sebagai kompas untuk bertindak kepada orang lain. Jika kita tidak suka dikritik dengan tajam, maka janganlah kita mengkritik orang lain dengan cara yang sama. Jika kita senang disapa dengan ramah, maka mulailah menyapa orang lain terlebih dahulu.
Kedua, Kasih yang proaktif, bukan reaktif. Perbedaan besar antara pengikut Kristus dan dunia adalah pada inisiatifnya. Orang duniawi berbuat baik supaya mendapatkan balasan. Namun, bagi orang percaya, melakukan kebaikan adalah sebuah keputusan iman. Kita tidak menunggu orang lain berubah menjadi baik baru kita mengasihi mereka. Kita mengasihi karena kita terlebih dahulu telah menerima kasih dan pengampunan dari Tuhan yang luar biasa.
Ketiga, memutus mata rantai kebencian. Ayat ini berada dalam konteks pengajaran Yesus tentang mengasihi musuh. Sangat mudah berbuat baik kepada orang yang manis kepada kita. Namun, tantangan sesungguhnya adalah tetap berbuat apa yang "kita ingin orang lakukan kepada kita" bahkan kepada mereka yang tidak menyukai kita. Inilah yang memutus rantai kebencian di dunia. Ketika kita memilih untuk tetap sopan meskipun dipandang rendah, atau tetap jujur meskipun dikelilingi ketidakjujuran, kita sedang memancarkan terang Kristus.
Apa yang menjadi relevansi nas ini bagi kita? Berdasarkan Lukas 6:31, berikut adalah tiga poin penting yang menjadi relevansi nas ini bagi kehidupan kita saat ini:
Pertama, mengubah mentalitas "Menunggu" menjadi "Memulai" (Inisiatif). Dunia sering mengajarkan kita untuk bersifat reaktif: "Saya akan baik kalau dia baik," atau "Saya akan membantu kalau dia pernah membantu saya." Namun, Lukas 6:31 menuntut kita untuk mengambil inisiatif. Di tengah lingkungan kerja, keluarga, atau pertemanan yang mungkin dingin atau tidak peduli, kita dipanggil untuk tidak menunggu orang lain berubah. Kita dipanggil untuk menjadi orang pertama yang membawa perubahan. Jika kita ingin suasana yang ramah, mulailah dengan keramahan kita sendiri tanpa menunggu orang lain memulainya.
Kedua, menjadikan empati sebagai standar etika bertindak. Yesus memberikan standar yang sangat praktis dan mudah dimengerti: gunakanlah perasaan dan keinginanmu sendiri sebagai tolok ukur cara memperlakukan orang lain. Kita semua tahu rasanya sakit hati saat dikritik dengan kasar atau diabaikan. Dalam dunia digital dan media sosial saat ini, di mana orang begitu mudah menghakimi atau berkomentar jahat, nas ini mengingatkan kita untuk berhenti sejenak dan berpikir: "Jika saya yang berada di posisi dia, apakah saya ingin dikomentari seperti ini?" Nas ini melatih empati kita agar tidak melakukan kepada orang lain apa yang kita sendiri tidak ingin alami.
Ketiga, memutus rantai transaksional dalam hubungan sosial. Banyak hubungan manusia saat ini bersifat "transaksional" atau berdasarkan asas manfaat (untung-rugi). Kita cenderung baik hanya kepada mereka yang menguntungkan kita. Namun, nas ini (terutama dalam konteks Lukas 6 yang membahas kasih kepada musuh) melampaui batas-batas tersebut. Kita diajak untuk berbuat baik secara tanpa syarat (unconditional). Relevansinya adalah kita tetap dipanggil untuk berlaku jujur, tulus, dan hormat bahkan kepada orang yang mungkin tidak membalas kebaikan kita. Karena itu, hal ini menjaga integritas kita sebagai anak-anak Allah; bahwa standar perbuatan kita ditentukan oleh firman Tuhan, bukan oleh perilaku orang lain terhadap kita. (rsnh)
Selamat memulai karya untuk TUHAN dalam Minggu ini



Komentar
Posting Komentar