Renungan hari ini: “BERJALAN DENGAN ‘KOMPAS’ IMAN” (2 Korintus 5:7 TB)

 Renungan hari ini:

 

“BERJALAN DENGAN ‘KOMPAS’ IMAN”


 

2 Korintus 5:7 (TB) “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”

 

2 Corinthians 5:7 (NET) “For we live by faith, not by sight”

 

Nas hari ini mengajak kita untuk “Berjalan dengan ‘Kompas’ Iman”. Manusia secara alami adalah makhluk visual. Kita merasa aman jika kita bisa melihat jalan di depan kita, kita merasa tenang jika saldo tabungan terlihat cukup, dan kita merasa yakin jika tanda-tanda kesuksesan sudah tampak di depan mata. Kita sering berkata, "Saya baru akan percaya kalau sudah melihat buktinya."

 

Namun, Rasul Paulus mengungkapkan sebuah prinsip yang sangat bertolak belakang dengan logika dunia: Hidup karena percaya, bukan karena melihat. Dalam bahasa aslinya, kata "hidup" di sini menggunakan kata peripatoumen, yang berarti "cara kita melangkah" atau "berjalan". Paulus tidak sedang berbicara tentang teori, melainkan tentang gaya hidup praktis sehari-hari. Berjalan karena percaya berarti:

 

Pertama, mengandalkan janji, bukan situasi. Situasi di sekitar kita bisa berubah-ubah seperti cuaca. Jika kita berjalan berdasarkan apa yang kita lihat, kita akan mudah panik saat badai datang. Tetapi jika kita berjalan karena percaya, kita berpegang pada janji Tuhan yang tidak pernah berubah, meskipun situasi terlihat gelap.

 

Kedua, melihat dengan "Mata Rohani". Percaya bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, tetapi melihat melampaui kenyataan itu. Seperti seorang pilot yang terbang di tengah kabut tebal, ia tidak mengandalkan penglihatannya, melainkan mengandalkan instrumen di kokpitnya. Bagi kita, instrumen itu adalah Firman Tuhan.

 

Ketiga, ketenangan di tengah ketidakpastian. Paulus menulis surat ini di tengah berbagai penderitaan. Secara kasat mata, hidup Paulus tampak hancur. Namun, karena ia hidup "karena percaya" akan kemuliaan kekal yang menantinya, ia tetap memiliki sukacita yang tidak bisa dicuri oleh keadaan.

 

Berjalan karena melihat membuat kita menjadi "tawanan" situasi. Berjalan karena percaya membuat kita menjadi "pemenang" atas situasi.

 

Apa yang menjadi relevansi nas ini bagi kita? Berikut adalah relevansi praktisnya bagi kita saat ini:

 

Pertama, penawar kecemasan di Era "Bombardir Informasi". Saat ini, kita dibombardir oleh berita buruk, krisis global, dan prediksi ekonomi yang suram melalui layar gadget kita. Jika kita hidup "karena melihat" berita-berita tersebut, kita akan terus-menerus merasa cemas, takut, dan depresi. Hidup "karena percaya" memberikan kita filter. Kita tetap sadar akan berita yang ada, namun kita memilih untuk lebih mempercayai kedaulatan Tuhan. Kita tahu bahwa di atas semua kekacauan yang kita "lihat", ada Tuhan yang tidak terlihat namun sedang memegang kendali.

 

Kedua, melawan budaya perbandingan (Media Sosial). Media sosial memaksa kita untuk hidup "karena melihat". Kita melihat kesuksesan orang lain, pernikahan yang tampak sempurna, dan kemewahan, lalu kita merasa hidup kita gagal atau kurang diberkati. Percaya berarti meyakini bahwa Tuhan memiliki rencana yang unik bagi kita, meskipun saat ini kita belum "melihat" kesuksesan yang sama. Relevansinya adalah memberikan kepuasan batin (contentment) karena kita percaya pada proses Tuhan, bukan pada standar visual dunia.

 

Ketiga, kekuatan dalam mengambil keputusan yang sulit. Dunia modern menuntut "kepastian data" sebelum melangkah. Sering kali kita tidak mau taat pada Tuhan (misalnya: untuk jujur, untuk memberi, atau untuk mengampuni) karena kita tidak "melihat" untungnya bagi kita secara logika. Nas ini relevan saat kita harus mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai Alkitab yang mungkin tampak "bodoh" bagi dunia. Berjalan karena percaya berarti berani melangkah dalam ketaatan meskipun hasil akhirnya belum terlihat oleh mata kita.

 

Keempat, harapan di tengah penderitaan dan kehilangan. Ketika kita kehilangan orang yang dikasihi, mengalami sakit penyakit, atau kegagalan berat, mata kita hanya "melihat" akhir dari segalanya, kegelapan, dan keputusasaan. Iman adalah "mikroskop" rohani yang memungkinkan kita melihat bahwa penderitaan saat ini mengerjakan kemuliaan yang kekal. Relevansinya bagi mereka yang menderita adalah bahwa apa yang kita lihat bukanlah akhir dari cerita. Ada realitas surgawi yang jauh lebih indah yang sedang menanti kita.

 

Kelima, mengatasi "Lelah Mental" karena ingin memegang kendali. Manusia modern sangat ingin mengontrol masa depan mereka. Kita lelah karena berusaha memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana mata kita. Hidup karena percaya adalah sebuah penyerahan (surrender). Relevansinya adalah memberikan "istirahat" bagi mental kita. Kita mengakui bahwa penglihatan kita terbatas, sedangkan Tuhan tidak terbatas. Kita bisa tidur nyenyak bukan karena masalahnya hilang, tapi karena kita percaya pada "Nakhoda" yang tidak pernah tertidur.


Relevansi 2 Korintus 5:7 adalah sebagai "Sistem Navigasi Jiwa". Mata jasmani kita hanya bisa melihat sejauh cakrawala, tetapi iman bisa melihat melampauinya. Karena itu, hidup karena percaya membuat kita tetap tenang saat dunia goyang, tetap berharap saat situasi buntu, dan tetap melangkah saat jalan di depan tampak berkabut. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer