Renungan hari ini: “TETAP TINGGAL DALAM KEBENARAN KRISTUS” (2 Yohanes 1:9 - TB2)
“TETAP TINGGAL DALAM KEBENARAN KRISTUS”
2 Yohanes 1:9 (TB2) “Setiap orang yang melangkah terlalu jauh dan tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, ia tidak memiliki Allah. Siapa yang tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak”
2 John 1:9 (NET) “Everyone who goes on ahead and does not remain in the teaching of Christ does not have God. The one who remains in this teaching has both the Father and the Son”
Nas hari ini menyatakan bahwa kita harus “Tetap Tinggal dalam Kebenaran Kristus.” Kita hidup di zaman yang sangat menghargai kemajuan, inovasi, dan pemikiran-pemikiran "baru". Namun, dalam hal iman dan kebenaran ilahi, Rasul Yohanes memberikan peringatan yang sangat tegas. Ada batas-batas yang tidak boleh kita lampaui.
Ada tiga poin penting yang dapat kita pelajari dari nas ini:
Pertama, bahaya "Melangkah Terlalu Jauh". Yohanes menggunakan istilah "melangkah terlalu jauh" (proagon dalam bahasa Yunani). Pada masa itu, ada pengajar-pengajar sesat yang merasa memiliki pengetahuan yang lebih "canggih" atau "modern" daripada Injil yang murni. Mereka mulai meninggalkan ajaran dasar tentang Kristus karena dianggap kuno. Sering kali kita juga tergoda untuk mencari "wahyu baru" atau mencoba menyesuaikan Firman Tuhan agar cocok dengan tren dunia saat ini. Ketika kita mulai mengubah esensi Injil demi kenyamanan atau popularitas, kita sebenarnya sedang melangkah terlalu jauh meninggalkan Tuhan.
Kedua, makna "Tinggal" di dalam ajaran Kristus. Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi orang Kristen yang kreatif dalam mengubah kebenaran, melainkan orang Kristen yang setia. "Tinggal" berarti menetap, berakar, dan tidak berpindah-pindah. Ini berarti kita menjadikan pengajaran Kristus—tentang kasih, pengorbanan, pertobatan, dan ketuhanan-Nya—sebagai fondasi permanen hidup kita. Kita tidak mencari alternatif lain, karena kita tahu bahwa di dalam ajaran Kristuslah terdapat seluruh kebenaran.
Ketiga memiliki Allah berarti memiliki Kristus. Yohanes menegaskan kaitan erat antara Bapa dan Anak. Kita tidak bisa mengklaim "memiliki Allah" atau "dekat dengan Tuhan" jika kita mengabaikan atau menyimpang dari ajaran Kristus. Hubungan kita dengan Allah Bapa hanya sah melalui Yesus Kristus. Siapa yang setia pada ajaran Yesus, ia mendapatkan "paket lengkap": hubungan yang intim dengan Bapa sekaligus penyertaan dari Sang Anak.
Apa yang menjadi perenungan dari nas ini? Ada beberapa poin yang menjadi perenungan dari nas ini:
Pertama, menghadapi "Injil yang Disesuaikan". Banyak pengajaran masa kini yang membuang bagian-bagian Alkitab yang "sulit" (seperti pertobatan, pikul salib, atau penghakiman) dan hanya mengambil bagian yang "enak" saja (berkat dan kenyamanan). Nas ini memanggil kita untuk kembali ke Injil yang utuh, bukan Injil yang sudah dipotong-potong sesuai selera kita.
Kedua, menghadapi Relativisme Kebenaran, Dunia sekarang berkata, "Semua agama sama" atau "Kebenaran itu relatif tergantung pendapat masing-masing." Nas ini adalah penegasan bahwa kebenaran itu mutlak di dalam Kristus. Kita tidak bisa memiliki Allah jika kita menolak ajaran eksklusif tentang Yesus sebagai jalan, kebenaran, dan hidup.
Ketiga bijak dalam memilih pengajaran di internet. Sekarang kita bisa mendengar khotbah dari siapa saja di YouTube atau media sosial. Kita harus punya filter. Jika sebuah pengajaran mulai "melangkah terlalu jauh" dari Alkitab atau merendahkan otoritas Kristus, kita harus berani meninggalkannya agar hubungan kita dengan Allah tidak rusak.
Keempat, pentingnya pemuridan dan Pendalaman Alkitab. Agar tidak mudah terseret ajaran yang melampaui batas, kita relevan untuk terus belajar Alkitab secara serius. Semakin kita mengenal "ajaran yang asli", semakin mudah bagi kita untuk mendeteksi "ajaran yang palsu" yang mencoba menarik kita keluar dari jalan Tuhan.
Di tengah banjir informasi dan berbagai filosofi hidup yang ada saat ini, mari kita periksa diri kita. Apakah kita masih setia pada ajaran dasar Alkitab? Ataukah kita mulai "melangkah terlalu jauh" dengan mengikuti prinsip-prinsip dunia yang bertentangan dengan Kristus? Karena itu, ingatlah, kemajuan yang sesat bukanlah sebuah keberhasilan, melainkan sebuah kehilangan yang besar—yaitu kehilangan persekutuan dengan Allah. (rsnh)
Selamat berakhir pekan dan besok kita beribadah kepada TUHAN



Komentar
Posting Komentar