Renungan hari ini: “MENIKMATI MUSIM HIDUP DALAM KEDAULATAN TUHAN” (Pengkhotbah 7:14 - TB2)
“MENIKMATI MUSIM HIDUP DALAM KEDAULATAN TUHAN”
Pengkhotbah 7:14 (TB2) “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya”
Ecclesiastes 7:14 (NET) “In times of prosperity be joyful, but in times of adversity consider this: God has made one as well as the other, so that no one can discover what the future holds”
Nas hari ini mengajak kita untuk “Menikmati Musim Hidup dalam Kedaulatan Tuhan.” Penulis Pengkhotbah (Raja Salomo) dikenal karena kejujurannya yang tajam tentang realitas hidup. Ia tidak menawarkan "iman kacamata merah jambu" yang mengatakan bahwa hidup akan selalu baik-baik saja. Sebaliknya, ia mengajak kita untuk melihat hidup apa adanya: sebuah campuran antara kegembiraan dan kesedihan, keberhasilan dan kegagalan.
Ada tiga hal penting yang dapat kita pelajari dari nas ini:
Pertama, hak untuk menikmati berkat ("Hari Mujur Bergembiralah"). Sering kali saat keadaan sedang baik, kita justru merasa cemas, bertanya-tanya kapan masalah akan datang. Atau kita merasa bersalah untuk merasa bahagia. Namun, Firman Tuhan berkata: bergembiralah! Tuhan ingin kita menikmati momen-momen berkat-Nya. Kegembiraan pada hari mujur adalah bentuk syukur. Jangan biarkan kekhawatiran akan hari esok mencuri sukacita yang Tuhan berikan hari ini.
Kedua, perspektif baru tentang kesulitan ("Hari Malang pun Dijadikan Allah"). Ini adalah bagian yang paling menantang. Alkitab mengatakan bahwa hari malang pun "dijadikan Allah". Ini bukan berarti Allah jahat, tetapi Allah memegang kedaulatan penuh atas setiap musim hidup kita. Masalah bukanlah sebuah kecelakaan atau tanda bahwa Tuhan sedang "tidur". Hari malang diizinkan Tuhan untuk menguji iman kita, membentuk karakter kita, dan membuat kita tetap rendah hati. Tuhan memakai hari mujur untuk memberkati kita, dan hari malang untuk mendewasakan kita. Keduanya ada di bawah kendali tangan-Nya yang penuh kasih.
Ketiga, misteri masa depan yang menuntun pada ketergantungan. Mengapa Tuhan mencampur kedua hari tersebut? Supaya kita "tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya." Jika hidup kita selalu mujur, kita akan menjadi sombong dan merasa tidak butuh Tuhan. Jika hidup selalu malang, kita akan putus asa. Dengan membuat masa depan menjadi misteri, Tuhan memaksa kita untuk tidak bergantung pada prediksi, ramalan, atau kekuatan kita sendiri. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepada Pribadi-Nya, bukan pada situasi kita.
Apa yang menjadi perenungan dari nas ini? Ada beberapa hal yang menjadi perenungan bagi kita:
Pertama, menghadapi dunia yang tak menentu. Kita hidup di zaman yang penuh ketidakpastian ekonomi, politik, dan kesehatan. Nas ini adalah sebagai jangkar mental: kita tidak perlu stres memikirkan masa depan yang tidak bisa kita tebak. Fokuslah pada penyertaan Tuhan di hari ini.
Kedua, melawan budaya "Toxic Positivity". Dunia sering memaksa kita untuk "selalu terlihat bahagia." Nas ini adalah memvalidasi adanya "hari malang." Tidak apa-apa jika keadaan sedang tidak baik, asalkan kita ingat bahwa Tuhan tetap bekerja di tengah "hari malang" tersebut.
Ketiga, mengatasi Control Freak (Terobsesi Mengendalikan Segalanya). Banyak orang stres karena ingin memastikan masa depan mereka aman 100%. Nas ini relevan untuk menyadarkan kita bahwa keamanan sejati bukan terletak pada kepastian masa depan, tetapi pada kepercayaan kita kepada Tuhan. Ini membantu kita mengurangi beban mental akibat mencoba menjadi "tuhan" atas hidup kita sendiri.
Keempat, menghargai setiap momen. Di era yang serba cepat, kita sering lupa menikmati hari ini karena terlalu fokus pada tujuan masa depan. Relevansi nas ini mengajak kita untuk "bergembira" di momen mujur sekecil apa pun, karena setiap momen adalah pemberian dari Allah.
Jika hari ini kita sedang di atas, bersyukurlah dan nikmatilah. Jika hari ini kita sedang di bawah, jangan putus asa, ingatlah bahwa Tuhan tetap memegang kendali. Berhentilah mencoba menebak-nebak masa depan dengan kecemasan. Karena itu, cukuplah percaya bahwa Siapa pun yang memegang hari esok, Dialah yang juga memegang tangan Anda hari ini. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Komentar
Posting Komentar