Renungan hari ini: “MEMILIH TELADAN: SIAPA YANG KITA TIRU?” (2 Yohanes 1:11 - TB2)

 Renungan hari ini:

 

“MEMILIH TELADAN: SIAPA YANG KITA TIRU?”


 

2 Yohanes 1:11 (TB2) “Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Siapa yang berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi siapa yang berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah”

 

3 John 1:11 (NET) “Dear friend, do not imitate what is bad but what is good. The one who does good is of God; the one who does what is bad has not seen God”

 

Nas hari ini mengajak kita “Memilih Teladan: Siapa yang Kita Tiru?” Secara psikologis, manusia adalah makhluk peniru. Kita belajar berbicara, berjalan, dan bersosialisasi dengan meniru orang-orang di sekitar kita. Namun, dalam kehidupan rohani, Rasul Yohanes memberikan peringatan keras bahwa kita tidak boleh sembarangan memilih teladan. Pilihan kita tentang siapa yang kita tiru menentukan siapa "tuan" kita yang sebenarnya.

 

Ada tiga poin penting yang dapat kita pelajari dari nas ini:

 

Pertama, keberanian untuk menolak arus ("Jangan Meniru yang Jahat"). Dalam konteks surat ini, Yohanes sedang membedakan dua tokoh: Diotrephes yang sombong dan jahat, serta Demetrius yang baik. Yohanes mengingatkan jemaat agar tidak terpesona oleh posisi atau kekuasaan seseorang jika kelakuannya jahat. Meniru yang jahat seringkali terasa lebih mudah karena biasanya itu adalah jalan pintas menuju keuntungan diri sendiri. Namun, orang percaya dipanggil untuk memiliki filter rohani: jangan hanya karena semua orang melakukannya, maka kita ikut-ikutan.

 

Kedua, kebaikan sebagai tanda kelahiran baru ("Siapa yang Berbuat Baik, Ia Berasal dari Allah").Kebaikan bagi orang Kristen bukan sekadar etika sosial, melainkan bukti identitas. Jika kita berasal dari Allah, maka "DNA" Allah—yaitu kasih dan kebenaran—seharusnya mengalir dalam tindakan kita. Melakukan kebaikan adalah cara kita menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kebaikan kita adalah "surat terbuka" yang menceritakan siapa Bapa kita.

 

Ketiga, hubungan antara karakter dan pengenalan akan Tuhan. Yohanes menulis hal yang sangat tajam: "siapa yang berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah." Ini berarti, seseorang bisa saja bicara tentang Tuhan, beribadah, atau punya jabatan di gereja, tetapi jika hidupnya terus-menerus melakukan kejahatan, ia sebenarnya belum pernah "bertemu" atau "melihat" Allah yang sesungguhnya. Mengenal Allah pasti akan mengubah karakter seseorang. Jika tidak ada perubahan karakter, maka pengenalan akan Tuhan itu patut dipertanyakan.

 

Apa yang menjadi perenungan dari nas ini? Ada beberapa hal yang menjadi perenungan dari nas ini:

 

Pertama, filter terhadap "Influencer" media sosial. Kita hidup di zaman di mana kita bisa meniru gaya hidup siapa saja melalui layar ponsel. Banyak orang meniru kehidupan yang terlihat mewah namun penuh kepalsuan, kesombongan, atau merendahkan orang lain. Relevansi nas ini adalah panggilan untuk menjadi peniru yang cerdas: hanya tiru apa yang sesuai dengan nilai-nilai Kristus.

 

Kedua, integritas di tempat kerja. Di dunia kerja, terkadang ada tekanan untuk "meniru yang jahat" (seperti manipulasi laporan, menyuap, atau menjilat atasan) agar cepat naik jabatan. Relevansi nas ini adalah pengingat bahwa meskipun cara jahat terlihat lebih cepat membawa sukses, itu akan membuat kita kehilangan kehadiran Allah dalam hidup kita.

 

Ketiga, menghadapi budaya kebencian (Toxic Culture). Sekarang ini sangat mudah untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, terutama di dunia digital (saling hujat). Relevansi nas ini adalah tantangan bagi kita untuk memutus rantai kejahatan. Jangan meniru cara orang dunia marah atau membenci; tunjukkanlah bahwa kita berasal dari Allah melalui kebaikan dan kesabaran.

 

Keempat, kesaksian hidup bagi generasi muda. Dunia butuh melihat "Demetrius-Demetrius" masa kini—orang-orang yang layak ditiru karena konsisten melakukan yang baik. Relevansinya adalah kita dipanggil untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita, rekan kerja, dan sesama, sehingga melalui kita mereka bisa "melihat" Allah.

 

Siapakah "influencer" atau sosok yang paling memengaruhi hidup kita saat ini? Apakah cara kita bicara, bekerja, dan memperlakukan orang lain meniru karakter Kristus, atau justru meniru cara-cara dunia yang jahat? Berhentilah meniru kesuksesan yang dibangun di atas kejahatan. Karena itu, pilihlah untuk melakukan yang baik, meskipun itu sulit, karena di situlah identitas kita sebagai anak Allah dinyatakan. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar

Postingan Populer