KOTBAH TRINITATIS Minggu, 31 Mei 2026 “MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL” (Matius 28:16–20)
KOTBAH TRINITATIS
Minggu, 31 Mei 2026
“MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL”
Kotbah: Matius 28:16–20 Bacaan: Yesaya 44:1-8
Hari ini kita merayakan Minggu Trinitatis, satu-satunya hari raya dalam kalender gerejawi yang didasarkan pada sebuah doktrin, bukan sekadar peristiwa sejarah (seperti Natal atau Paskah). Namun, doktrin Allah Tritunggal bukanlah rumusan filsafat yang kering. Doktrin ini lahir dari pengalaman iman jemaat mula-mula akan Allah yang menyatakan diri-Nya dalam tiga personalitas: Bapa yang menciptakan, Anak yang menebus, dan Roh Kudus yang menyertai.
Nas kita hari ini, Matius 28:16–20, sering disebut sebagai "Amanat Agung". Secara teologis, nas ini adalah locus classicus (tempat utama) di mana nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus disandingkan secara sejajar. Mari kita gali lebih dalam secara historis dan kritis.
Pertama, konteks geografis dan simbolis (ay. 16-17). Matius mencatat bahwa murid-murid pergi ke Galilea, ke sebuah bukit. Secara historis, Matius ingin menarik garis kembali ke awal pelayanan Yesus yang dimulai di Galilea—wilayah yang dianggap rendah oleh elit religius Yerusalem. Bukit atau gunung dalam tradisi Matius adalah tempat wahyu (seperti Kotbah di Bukit atau Transfigurasi). Namun, perhatikan ayat 17: "Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu." Secara kritis, frasa "ragu-ragu" (edistasan) sangat menarik. Matius jujur menunjukkan bahwa bahkan di hadapan Kristus yang bangkit, kemanusiaan para murid yang rapuh tetap ada. Menjadi saksi tidak menuntut kesempurnaan iman, melainkan ketaatan untuk datang.
Kedua, otoritas Sang Anak (ay. 18). Yesus mendekat dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa (exousia) di surga dan di bumi." Kalimat ini menggunakan bentuk pasif ilahi (divine passive), artinya kuasa itu diberikan oleh Bapa. Ini adalah klaim Kristologis yang kuat. Yesus bukan sekadar guru moral; Ia adalah pemegang otoritas kosmis yang menjembatani langit dan bumi. Ini menjadi dasar mengapa kita berani menjadi saksi: karena kita tidak berjalan dengan otoritas diri sendiri, melainkan otoritas Kristus.
Ketiga, rumusan Trinitarian (ay. 19). "Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
Secara historis-kritis, para sarjana mencatat bahwa rumusan triadik ini mencerminkan praktik liturgi jemaat Matius di akhir abad pertama (sekitar 80-90 M). Kata "Nama" (onoma) di sini menggunakan bentuk tunggal (singular), bukan jamak. Ini adalah inti teologis Allah Tritunggal: Satu Nama, Tiga Pribadi. Menjadi saksi Allah Tritunggal berarti membawa orang ke dalam persekutuan (relasi) dengan Allah yang relasional itu sendiri.
Pertanyaan kita sekarang apa makna menjadi saksi Allah Tritunggal dalam perikop ini?
Pertama, perkembangan Formula Baptisan (Historis). Para ahli biblika (seperti dalam kritik tradisi) sering membandingkan nats ini dengan kitab Kisah Para Rasul. Dalam Kisah Para Rasul (misalnya Kis. 2:38, 8:16, 10:48), baptisan dilakukan hanya "dalam nama Yesus Kristus." Beberapa sarjana (seperti Adolf von Harnack) berpendapat bahwa rumusan Trinitarian yang lengkap dalam Matius 28:19 mencerminkan praktik liturgi jemaat Kristen mula-mula di akhir abad pertama (saat Injil Matius ditulis, sekitar 80-90 M), bukan kata-kata harfiah Yesus saat itu. Rumusan ini juga ditemukan dalam Didache (dokumen ajaran para rasul awal abad ke-2), yang menunjukkan bahwa gereja perdana segera menyadari bahwa identitas Yesus tidak dapat dipisahkan dari Bapa dan Roh Kudus. Secara historis, Matius 28:19 menjadi dasar hukum bagi liturgi baptisan gereja universal.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa menjadi saksi bukanlah sesuatu yang statis. Kesaksian gereja tentang Yesus (Kristologis) secara organik berkembang menjadi kesaksian tentang Allah yang utuh (Trinitarian). Menjadi saksi Kristus secara otomatis membawa kita pada pengakuan akan Bapa yang mengutus-Nya dan Roh yang menginsafkan dunia. Formula Matius 28:19 adalah puncak pemahaman iman jemaat mula-mula bahwa Yesus tidak bisa dipisahkan dari hakikat ke-Allahan-Nya yang relasional.
Secara historis, ini menegaskan bahwa sejak masa rasuli, gereja sudah menyadari bahwa misi mereka bukan sekadar menyebarkan agama "Yesus", melainkan memasukkan manusia ke dalam realitas Allah yang Esa namun Jamak. Menjadi saksi berarti bersaksi tentang kebenaran yang sudah diuji oleh sejarah dan tradisi liturgi yang sangat tua.
Kedua, teologi Relasional Allah Tritunggal. Secara teologis, ayat ini bukan sekadar "mantra" baptisan, melainkan pernyataan tentang Siapa Allah. Penyandingan "Bapa, Anak, dan Roh Kudus" dalam satu struktur gramatikal menunjukkan kesetaraan (ontologis). Anak dan Roh Kudus tidak diposisikan sebagai bawahan Bapa, tetapi setara dalam satu "Nama". Secara teologis, Allah Tritunggal adalah Allah yang mengutus. Bapa mengutus Anak, Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus, dan Allah Tritunggal mengutus Gereja. Misi gereja berakar pada sifat Allah yang "keluar" untuk menjumpai manusia.
Istilah teknis teologis untuk relasi ini adalah Perichoresis (dari bahasa Yunani: peri = sekeliling, dan choreo = memberi ruang/berjalan/menari). Dalam Matius 28:19: Ketika Yesus memerintahkan baptisan dalam satu "Nama," Ia sedang merujuk pada kesatuan perichoretis ini. Menjadi saksi Allah Tritunggal berarti menyaksikan Allah yang "dinamis"—Allah yang selalu bergerak keluar untuk mengasihi. Allah tidak membutuhkan manusia agar Ia bisa mengasihi; Ia sudah adalah Kasih di dalam diri-Nya sendiri sebelum dunia dijadikan.
Teologi relasional Allah Tritunggal mengubah pemahaman kita tentang "Misi." Misi bukan lagi "perekrutan anggota organisasi," melainkan "undangan untuk berpesta dalam tarian kasih Allah." Kita bersaksi bahwa di pusat alam semesta ini, tidak ada kesendirian yang hampa, melainkan persekutuan kasih yang hangat.
Ketiga, signifikansi Inkorporasi ("Eis"). Penggunaan kata Eis (ke dalam) memiliki bobot teologis Yuridis dan Mistik.Dalam dunia kuno, menempatkan sesuatu ke dalam "nama" seseorang berarti memindahkan kepemi-likan. Orang yang dibaptis kini menjadi "properti" atau milik Allah Tritunggal, bukan lagi milik kuasa dosa atau dunia. Baptisan adalah penyatuan spiritual. Menjadi saksi Allah Tritunggal berarti saksi yang "berada di dalam" Allah itu sendiri. Kita tidak bersaksi dari luar, tapi dari dalam persekutuan kasih Allah.
Dalam tradisi Yahudi, "Nama" (Shem) sangatlah sakral dan merujuk pada YHWH. Dengan menyatukan Bapa, Anak, dan Roh Kudus ke dalam satu "Nama" (Onoma), Matius sedang melakukan sebuah revolusi teologis. Ia menegaskan bahwa Yesus dan Roh Kudus bukan "Allah-Allah kecil" atau dewa tambahan, melainkan satu kesatuan dengan Allah Israel.
Keempat, semua bangsa (Panta ta Ethne). Secara historis, penekanan pada "semua bangsa" menunjukkan pergeseran teologis dari partikularisme Yahudi ke universalisme Injil. Allah Tritunggal adalah Allah bagi seluruh ciptaan. Tugas saksi adalah membawa realitas "Nama" yang satu itu ke dalam keragaman budaya manusia. Jika Allah hanya milik satu bangsa, maka Ia adalah dewa suku (tribal god). Namun, karena Allah adalah Bapa (Pencipta), maka setiap ethne di muka bumi adalah milik-Nya. Menjadi saksi Allah Tritunggal berarti mengakui bahwa tidak ada bangsa yang "asing" bagi Allah. Kesaksian kita didasarkan pada kedaulatan universal Bapa.
Panta ta Ethne adalah cakrawala misi yang tidak berujung. Menjadi saksi Allah Tritunggal berarti kita diutus untuk merangkul seluruh kemanusiaan ke dalam persekutuan kasih Allah yang Esa. Kita bergerak dari pusat (diri sendiri/gereja kita) menuju pinggiran (semua bangsa) sampai seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Nama Sang Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
RENUNGAN
Apa artinya menjadi Saksi Allah Tritunggal? Dari perikop ini ada beberapa yang menjadi perenungan kita:
Pertama, menjadi Saksi akan Allah yang melampaui batas. Perintahnya adalah "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku." Secara historis, bagi pembaca Yahudi pertama Matius, ini adalah revolusi. Allah bukan hanya milik satu suku, tetapi milik semua bangsa (panta ta ethne). Menjadi saksi Allah Tritunggal berarti kita harus meruntuhkan tembok-tembok eksklusivisme. Allah Bapa adalah pencipta semua manusia, Anak menebus semua manusia, dan Roh bekerja melampaui batas-batas gereja institusional.
Kedua, menjadi Saksi melalui pengajaran (Didas-kontes). Saksi bukan hanya orang yang berseru "Haleluya", tetapi mereka yang "mengajarkan mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." Kesaksian kita harus memiliki isi etis. Kita bersaksi tentang keadilan Bapa, kasih pengurbanan Anak, dan kebenaran Roh Kudus. Menjadi saksi berarti mendemonstrasikan gaya hidup "Kerajaan Sorga" di tengah dunia.
Ketiga, menjadi Saksi dalam kepastian penyertaan. Nas ini ditutup dengan janji: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Ini adalah inklusi (bingkai) dari Injil Matius. Di awal (Mat. 1:23), Yesus disebut Immanuel (Allah menyertai kita), dan di akhir, Ia menegaskan penyertaan itu. Allah Tritunggal bukanlah Allah yang jauh di awan-awan. Bapa merancangkan keselamatan, Anak mengerjakannya dalam sejarah, dan Roh Kudus menghadirkan kehadiran Allah itu "di sini dan saat ini".
Allah Tritunggal adalah komunitas kasih yang sempurna. Ketika kita mengasihi sesama, mengajarkan kebenaran, dan merawat ciptaan, kita sedang menunjukkan kepada dunia siapa Allah kita. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Nya. Jangan takut, sebab Ia, Sang Immanuel—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—menyertai kita sampai kesudahan zaman. (rsnh)
Selamat Merayakan Minggu Trinitatis!



Komentar
Posting Komentar