Renungan hari ini: “MENGHIDUPI PANGGILAN DENGAN KUASA ALLAH” (2 Tesalonika 1:11)
Renungan hari ini:
“MENGHIDUPI PANGGILAN DENGAN KUASA ALLAH”
2 Tesalonika 1:11 (TB2) "Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu"
2 Thessalonians 1:11 (NET) "And in this regard we pray for you always, that our God will make you worthy of his calling and fulfill by his power your every desire for goodness and every work of faith"
Nas hari ini berbicara mengenai “Menghidupi Panggilan dengan Kuasa Allah.” Setiap orang percaya telah dipanggil oleh Tuhan untuk maksud yang mulia. Namun, sering kali kita merasa lelah, gagal, atau merasa tidak cukup baik dalam menjalankan panggilan tersebut. Rasul Paulus sangat memahami pergumulan ini. Itulah sebabnya, ia tidak hanya memberikan nasihat, tetapi ia "senantiasa berdoa" bagi jemaat di Tesalonika agar mereka dimampukan oleh Tuhan.
Dari doa Paulus ini, kita dapat mempelajari tiga hal penting dalam perjalanan iman kita:
Pertama, hidup yang layak bagi panggilan-Nya. Paulus berdoa agar Allah menganggap kita "layak bagi panggilan-Nya". Menjadi "layak" di sini bukan berarti kita harus sempurna dengan usaha sendiri supaya diterima Tuhan. Sebaliknya, ini adalah tentang keselarasan hidup. Jika kita sudah dipanggil sebagai anak-anak Allah, sudahkah karakter, perkataan, dan tindakan kita mencerminkan siapa yang memanggil kita? Hidup yang layak adalah hidup yang memberikan respons positif terhadap anugerah-Nya setiap hari.
Kedua, kehendak baik yang disempurnakan. Pernahkah kita berniat melakukan sesuatu yang baik, tetapi niat itu berhenti hanya menjadi sekadar rencana? Kita sering memiliki kehendak (niat), tetapi kekurangan kuasa untuk mewujudkannya. Paulus mengingatkan bahwa hanya "dengan kekuatan-Nya" (kuasa Allah), niat baik kita bisa disempurnakan atau dilaksanakan. Kita butuh ketergantungan penuh kepada Roh Kudus agar keinginan untuk mengasihi, mengampuni, dan menolong sesama tidak berhenti di dalam pikiran saja, melainkan menjadi tindakan nyata.
Ketiga, iman yang bekerja. Iman bukanlah sesuatu yang pasif. Paulus menyebutkan tentang "pekerjaan iman". Iman sejati akan membuahkan hasil, kerja nyata, dan ketekunan. Namun sekali lagi, kesempurnaan dari pekerjaan iman itu bukan hasil ambisi manusia, melainkan hasil pekerjaan Tuhan di dalam kita. Tuhan yang memulai iman itu, dan Dia pula yang akan menyempurnakannya di tengah segala tantangan hidup kita.
Apa yang perlu direnungkan dari nas hari ini? Berikut adalah poin-poin mendalam yang perlu direnungkan dari ayat ini:
Pertama, tujuan doa yang sejati. Paulus berkata, "Kami senantiasa berdoa juga untuk kamu..." Perhatikan apa yang Paulus doakan. Ia tidak mendoakan kenyamanan materi atau pembebasan dari kesulitan fisik semata. Ia mendoakan pertumbuhan karakter dan pemenuhan panggilan Tuhan. Berapa sering doa-doa kita bagi orang lain (atau diri sendiri) berfokus pada panggilan rohani dibandingkan sekadar meminta kenyamanan hidup?
Kedua, menyelaraskan hidup dengan panggilan. "...supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya..."Kata "layak" di sini bukan berarti kita "membayar" harga keselamatan dengan perbuatan baik (karena keselamatan adalah anugerah). "Layak" di sini berarti konsistensi atau keselarasan. Ibarat seorang duta besar yang harus membawa diri dengan pantas sesuai jabatan yang diberikan kepadanya. Jika dunia melihat hidup kita hari ini, apakah mereka melihat perilaku yang selaras dengan sebutan "Anak Allah"? Apakah identitas kita sebagai orang beriman sudah terpancar dalam etika kerja dan tutur kata saya?
Ketiga, keterbatasan niat baik tanpa Kuasa Allah. "...dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik..." Kita sering memiliki niat baik (good intentions), tetapi sering kali niat itu layu di tengah jalan karena kelelahan atau godaan. Ayat ini menegaskan bahwa untuk mengubah "niat baik" menjadi "tindakan nyata", kita butuh kekuatan-Nya (Yunani: Dunamis).
Keempat, iman yang membuahkan pekerjaan. "...menyempurnakan segala pekerjaan imanmu." Iman bukan sekadar pemikiran abstrak atau perasaan di dalam hati. Iman sejati adalah iman yang membuahkan "pekerjaan" (tindakan). Namun, Paulus mengingatkan bahwa Tuhanlah yang "menyempurnakan" atau membawa pekerjaan iman itu kepada keberhasilan yang sejati. "Pekerjaan iman" apa yang sedang Tuhan percayakan kepada saya saat ini? Apakah itu mengampuni seseorang, memulai pelayanan, atau menjadi saksi di tempat kerja? Percayalah bahwa Tuhan yang memberi iman, Dia juga yang akan menyempurnakan hasilnya.
Hidup Kristen bukan tentang menjadi sempurna dengan usaha sendiri, melainkan tentang hidup yang bersandar pada kekuatan Tuhan untuk mewujudkan panggilan-Nya. Karena itu, Allah tidak hanya memanggil kita, tetapi Dia juga berkomitmen untuk memberikan "bahan bakar" (kekuatan) agar kita sampai ke garis finish. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN

Komentar
Posting Komentar