Renungan hari ini: “MENGENAKAN "LENSA" KRISTUS DALAM RELASI SESAMA” (Filipi 2:5 - TB2)
“MENGENAKAN "LENSA" KRISTUS DALAM RELASI SESAMA”
Filipi 2:5 (TB2) “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”
Philippians 2:5 (NET) “You should have the same attitude toward one another that Christ Jesus had”
Nas hari ini mengajak kita “Mengenakan ‘Lensa’ Kristus dalam Relasi Sesama. Masalah terbesar dalam sebuah komunitas—apakah itu dalam keluarga, tempat kerja, atau gereja—sering kali bukanlah perbedaan pendapat, melainkan benturan ego. Kita cenderung ingin didengar, ingin dihormati, dan ingin kepentingan kita didahulukan. Namun, Rasul Paulus memberikan sebuah standar yang sangat tinggi bagi kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Ia tidak hanya meminta kita mengubah "perilaku" kita, tetapi jauh lebih dalam: ia meminta kita mengubah "pikiran dan perasaan"kita.
Ada tiga hal penting yang bisa kita pelajari dari ayat ini:
Pertama, kekristenan bukan sekadar etika, tapi transformasi batin. Paulus tidak berkata "berlakulah sopan seperti Yesus," melainkan "taruhlah pikiran dan perasaan Kristus." Perilaku kita adalah buah dari apa yang ada di dalam pikiran dan hati kita. Jika pikiran kita dipenuhi dengan kesombongan, maka tindakan kita akan menjadi dominan. Tetapi jika kita mengizinkan Roh Kudus mengubah cara berpikir kita menjadi seperti Kristus, maka kebaikan dan kerendahan hati akan mengalir secara alami.
Kedua, fokus pada "Hidup Bersama." Ayat ini diletakkan dalam konteks hubungan antarmanusia (hidup bersama). Iman kita diuji bukan saat kita sedang berdoa sendirian di kamar, melainkan saat kita berinteraksi dengan orang yang menjengkelkan, orang yang bersalah kepada kita, atau orang yang berbeda pendapat dengan kita. Di sanalah kita dipanggil untuk bertanya: "Bagaimana perasaan Kristus terhadap orang ini? Apa yang Yesus pikirkan dalam situasi ini?"
Ketiga, teladan kerendahan hati (Kenosis). Jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya (ayat 6-8), kita melihat apa itu pikiran Kristus: yaitu kesediaan untuk melepaskan hak, mengosongkan diri, dan mengambil rupa seorang hamba. Pikiran Kristus adalah pikiran yang tidak mencari keuntungan diri sendiri, melainkan mencari bagaimana bisa memberkati orang lain.
Apa yang menjadi perenungan dari nas hari ini? Berikut adalah poin-poin perenunga yang mendalam dari nas hari ini:
Pertama, transformasi "Sistem Operasi" batin. Kata "Pikiran dan Perasaan" dalam bahasa aslinya (phroneite) merujuk pada keseluruhan disposisi mental, cara pandang, dan sikap hati. Menjadi Kristen bukan sekadar mengubah perilaku luar (etika), tetapi mengubah "sistem operasi" di dalam kepala dan hati kita. Sering kali kita mencoba bertindak seperti Yesus, tetapi pikiran kita masih dipenuhi dengan kesombongan. Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan harus dimulai dari cara kita berpikir dan cara kita merasa. Apakah kacamata yang kita gunakan untuk melihat dunia hari ini adalah kacamata ego kita, atau kacamata Kristus?
Kedua, iman yang diuji dalam relasi ("Dalam hidupmu bersama"). Perhatikan bahwa perintah ini diletakkan dalam konteks komunitas (hidup bersama). Sangat mudah untuk merasa rohani dan memiliki "pikiran Kristus" saat kita sedang sendirian atau berdoa di kamar. Namun, ujian sesungguhnya adalah saat kita berinteraksi dengan orang lain—terutama orang yang sulit dikasihi, orang yang berbeda pendapat, atau orang yang mengecewakan kita. "Hidup bersama" adalah laboratorium iman. Di sanalah kita membuktikan apakah pikiran Kristus benar-benar ada dalam diri kita atau hanya sekadar teori.
Ketiga, kerendahan hati: Melepaskan "Hak". Jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya (ay. 6-8), kita melihat bahwa pikiran Kristus adalah pikiran yang bersedia mengosongkan diri dan melepaskan hak. Kristus memiliki hak untuk disembah sebagai Allah, tetapi Ia memilih menjadi hamba. Sebaliknya, kita sering kali tidak memiliki hak apa-apa, tetapi menuntut untuk dihormati dan dilayani. Pikiran Kristus adalah pikiran yang bertanya: "Bagaimana aku bisa melayani?" sedangkan pikiran dunia adalah pikiran yang bertanya: "Apa untungnya bagiku?" Sudahkah kita bersedia melepaskan "hak untuk benar" atau "hak untuk dihormati" demi menjaga kasih dalam komunitas?
Keempat, Kristus sebagai Standar, bukan orang lain. Sering kali kita merasa sudah "cukup baik" karena membandingkan diri dengan orang lain yang lebih buruk. Namun, Paulus memberikan standar tunggal: Kristus Yesus. Standar hidup kita bukan "apa yang umum dilakukan orang," melainkan "apa yang dilakukan Kristus." Ini adalah panggilan untuk terus bertumbuh. Pikiran Kristus adalah pikiran yang taat sampai mati. Perenungannya bagi kita: Sejauh mana saya bersedia taat kepada kehendak Bapa, bahkan ketika itu menuntut pengorbanan ego saya?
Kristus adalah kerendahan hati; perasaan Kristus adalah belas kasihan. Menjadi serupa dengan Kristus berarti kita belajar untuk berhenti memikirkan kepentingan diri sendiri sebagai yang utama, dan mulai memikirkan bagaimana kehadiran kita bisa menjadi saluran berkat dan kedamaian bagi orang lain. Mengenakan pikiran dan perasaan Kristus berarti belajar untuk berhenti memandang dunia dari kacamata "Aku", dan mulai memandang dari kacamata "Kristus". Karena itu, ketika kita mulai merasakan apa yang Kristus rasakan—belas kasihan, pengampunan, dan kerendahan hati—maka "hidup bersama" kita akan berubah menjadi kesaksian yang indah tentang kasih Allah. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN



Comments
Post a Comment