Renungan hari ini: "TANGGUNG JAWAB SANG PENJAGA IMAN" (Yehezkiel 3:17)

 Renungan hari ini:

 

"TANGGUNG JAWAB SANG PENJAGA IMAN"


 

Yehezkiel 3:17 (TB2) "Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari mulut-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku"

 

Ezekiel 3:17 (NET) “Son of man, I have appointed you a watchman for the house of Israel. Whenever you hear a word from my mouth, you must give them a warning from me"

 

Nas hari ini membahas topik "Tanggung Jawab Sang Penjaga Iman." Pada zaman kuno, seorang "penjaga" (watchman) memiliki tugas yang sangat krusial. Ia berdiri di atas tembok kota, terjaga saat orang lain tidur, dan memandang ke kejauhan untuk melihat apakah ada bahaya atau musuh yang datang. Jika ia melihat bahaya tetapi tidak meniup sangkakala, maka kehancuran kota itu akan ditanggungkan di atas kepalanya. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan memakai metafora ini untuk menjelaskan panggilan setiap orang percaya.

 

Ada tiga pesan penting yang perlu kita pelajari dari nas ini:

 

Pertama, panggilan sebagai "Penjaga" bukanlah pilihan. Tuhan berkata, "Aku telah menetapkan engkau." Ini bukan tawaran atau hobi, melainkan sebuah penetapan ilahi. Kita sering berpikir bahwa tanggung jawab rohani hanya ada pada pundak pendeta atau penginjil. Namun, setiap kita yang telah mengenal kebenaran ditetapkan menjadi "penjaga" bagi orang-orang di sekitar kita—keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Kita dipanggil untuk peduli pada keselamatan jiwa mereka.

 

Kedua, mendengar sebelum berbicara. Tugas penjaga dimulai dengan: "Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari mulut-Ku."Seorang penjaga tidak boleh mengarang pesannya sendiri. Ia harus memiliki telinga yang peka terhadap suara Tuhan. Sebelum kita bisa memberikan nasihat atau peringatan kepada orang lain, kita sendiri harus sudah "berdiri di atas tembok" untuk bersekutu dengan Tuhan melalui firman-Nya. Kita tidak membawa opini pribadi, melainkan membawa pesan dari mulut Tuhan.

 

Ketiga, keberanian untuk memperingatkan. Tuhan menginstruksikan, "Peri-ngatkanlah mereka atas nama-Ku." Memberikan peringatan sering kali bukan tugas yang populer. Kita mungkin takut dianggap menghakimi atau sok suci. Namun, kasih yang sejati tidak membiarkan orang yang dicintai berjalan menuju jurang kehancuran. Jika kita tahu seseorang sedang dalam bahaya rohani atau moral, memperingatkan mereka dengan kasih adalah bentuk ketaatan tertinggi kepada Tuhan.

 

Apa yang menjadi perenungandari nas hari ini? Berikut adalah 4 poin perenungan mendalam dari ayat tersebut:

 

Pertama, mandat Ilahi ("Aku telah menetapkan engkau"). Yehezkiel tidak mengajukan lamaran untuk menjadi penjaga; Tuhanlah yang menetapkannya. Dalam konteks sekarang, "penjaga" bukan hanya pendeta, tetapi setiap kita yang sudah mengenal kebenaran. Tuhan menempatkan Anda di tengah keluarga, kantor, atau lingkungan pertemanan bukan tanpa alasan. Anda ditetapkan di sana untuk menjadi "mata" Tuhan yang memperhatikan keadaan rohani orang-orang di sekitar Anda.

 

Kedua, tugas seorang Penjaga (Watchman). Pada zaman Alkitab, penjaga berdiri di atas tembok kota. Saat semua orang tidur, dia harus tetap terjaga. Jika dia tertidur atau lalai, seluruh kota bisa binasa. Menjadi penjaga berarti memiliki kepekaan dan kepedulian. Dunia sering mengajarkan "urus saja urusanmu sendiri," tetapi Tuhan memanggil kita untuk peduli pada keselamatan jiwa orang lain. Kita tidak boleh menjadi egois dengan keselamatan kita sendiri sementara orang di sekitar kita berjalan menuju kehancuran.

 

Ketiga, pentingnya mendengar sebelum berbicara ("Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari mulut-Ku"). Seorang penjaga yang baik tidak memberikan alarm palsu berdasarkan perasaannya sendiri. Dia hanya menyampaikan apa yang dia lihat atau dengar dari Sang Raja. Kita tidak bisa memberikan peringatan atau nasihat yang benar jika kita sendiri tidak bersekutu dengan Tuhan. Sebelum mulut kita berbicara kepada manusia, telinga kita harus lebih dulu mendengar dari Tuhan. Nasihat yang tidak bersumber dari firman Tuhan hanyalah opini manusia yang tidak memiliki kuasa untuk mengubah hidup.

 

Keempat, keberanian menyampaikan Kebenaran ("Peringatkanlah mereka atas nama-Ku"). Tugas penjaga adalah meniup sangkakala, terlepas dari apakah orang yang mendengar akan suka atau tidak. Mengingatkan orang akan dosa atau kesalahan sering kali membuat kita tidak disukai. Kita takut dianggap sok suci atau menghakimi. Namun, ayat ini mengajarkan bahwa memperingatkan orang lain adalah tugas yang diberikan Tuhan "atas nama-Nya". Jika kita diam saat melihat saudara kita berbuat dosa, kita sebenarnya tidak sedang mengasihi mereka; kita hanya sedang mencintai kenyamanan diri kita sendiri. Kasih yang sejati berani berkata jujur.

 

Yehezkiel 3:17 mengingatkan bahwa keselamatan orang lain ada hubungannya dengan ketaatan kita. Tuhan tidak menuntut kita untuk mengubah orang tersebut (karena itu bagian Tuhan), tetapi Tuhan menuntut kita untuk setia menyampaikan pesan-Nya. Menjadi penjaga berarti memiliki kepekaan dan kepedulian. Di dunia yang semakin individualis ini, mudah bagi kita untuk berkata, "Itu bukan urusanku, itu hidup mereka." Namun, Tuhan menempatkan kita di tengah keluarga atau komunitas kita sebagai "penjaga".

 

Jika kita melihat seorang teman mulai menjauh dari Tuhan, atau seorang anggota keluarga terjebak dalam kebiasaan yang merusak, jangan diam. Karena itu, mintalah hikmat kepada Tuhan, dengarkan firman-Nya, dan sampaikanlah peringatan dengan rendah hati dan kasih. Ingatlah, tugas kita adalah menyampaikan pesan; hasilnya ada di tangan Tuhan. Namun, jika kita diam, kita mengabaikan tugas yang telah Tuhan tetapkan. (rsnh)

 

Selamat memulai karya dalam Minggu ini untuk TUHAN

Comments