Renungan hari ini: “MISI KASIH YANG MENGUBAH: PINTU TERBUKA BAGI YANG MAU BERTOBAT” (Lukas 5:32)

 Renungan hari ini:

 

“MISI KASIH YANG MENGUBAH: PINTU TERBUKA BAGI YANG MAU BERTOBAT”


 

Lukas 5:32 (TB2) “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat"

 

Luke 5:32 (NET) “I have not come to call the righteous, but sinners to repentance”

 

Nas hari ini foku pada “Misi Kasih yang Mengubah: Pintu Terbuka bagi yang Mau Bertobat.” Konteks ayat ini adalah saat Yesus sedang makan di rumah Lewi (Matius), seorang pemungut cukai yang baru saja dipanggil menjadi murid-Nya. Perjamuan itu dihadiri oleh banyak pemungut cukai dan orang-orang yang dianggap "berdosa" oleh masyarakat. Orang Farisi dan ahli Taurat pun bersungut-sungut karena menganggap Yesus menajiskan diri-Nya dengan bergaul bersama mereka. Namun, jawaban Yesus sangat mengejutkan dan penuh anugerah.

 

Ada tiga poin penting yang bisa kita pelajari dari ayat ini:

 

Pertama, Kristus tidak mencari kesempurnaan, tetapi keterbukaan. Yesus menegaskan bahwa misi-Nya bukan untuk "orang benar". Di sini, Yesus sedang menyindir orang Farisi yang merasa diri mereka sudah benar dan suci secara ritual. Bagi mereka yang merasa tidak punya cacat, Yesus tidak memiliki peran apa-apa dalam hidup mereka. Namun, bagi mereka yang sadar akan keberdosaannya, Yesus adalah satu-satunya harapan. Syarat untuk menjumpai Yesus bukanlah kesempurnaan, melainkan kejujuran untuk mengakui kesalahan.

 

Kedua, tujuan akhir: Pertobatan (Metanoia). Yesus datang memanggil orang berdosa bukan untuk membiarkan mereka tetap dalam dosanya. Dia tidak berkata, "Datanglah padaku dan tetaplah berbuat jahat." Yesus memanggil mereka "supaya mereka bertobat." Pertobatan (metanoia) berarti perubahan pikiran, arah, dan gaya hidup. Kasih Yesus yang menerima kita "apa adanya" adalah kekuatan yang justru memampukan kita untuk "tidak tetap apa adanya." Kasih-Nya yang merangkul itulah yang melunakkan hati orang berdosa untuk mau berubah.

 

Ketiga, gereja sebagai rumah sakit Rohani. Jika Yesus sang Guru Agung mau duduk dan makan dengan orang berdosa, maka kita sebagai pengikut-Nya pun dipanggil untuk memiliki hati yang sama. Sering kali kita menjadi eksklusif dan menghakimi mereka yang hidupnya berantakan. Namun, ayat ini mengingatkan kita bahwa gereja dan komunitas kita seharusnya menjadi tempat yang aman bagi orang berdosa untuk menemukan jalan pertobatan, bukan tempat di mana orang merasa diadili oleh mereka yang "merasa benar."


Apa yang menjadi perenungan dari nas hari ini? Ayat Lukas 5:32 merupakan inti dari misi kedatangan Yesus ke dunia. Jika kita merenungkannya secara mendalam, ada beberapa kebenaran radikal yang menantang cara berpikir kita:

 

Pertama, bahaya kesalehan yang semu ("Orang Benar"). Dalam konteks ini, "orang benar" merujuk pada orang-orang Farisi yang merasa sudah memenuhi seluruh hukum agama dan tidak punya cela. Yesus tidak mengatakan bahwa ada orang yang benar-benar tanpa dosa (karena Rm. 3:23 mengatakan semua orang telah berdosa). Yesus sedang menyindir mereka yang merasa tidak butuh Juruselamat. Perenungan bagi kita: Apakah kita sering merasa "sudah cukup baik" karena rajin ke gereja atau melakukan pelayanan, sehingga kita kehilangan rasa butuh akan anugerah Tuhan? Kesombongan rohani adalah penghalang terbesar untuk bertemu Yesus.

 

Kedua, kualifikasi utama: Mengaku berdosa. Dunia biasanya mencari orang-orang terbaik, paling berbakat, atau paling bersih untuk sebuah misi penting. Namun, Yesus justru mencari "orang berdosa." Kabar baiknya adalah: Kualifikasi untuk mendapatkan anugerah Tuhan bukanlah kesucian kita, melainkan pengakuan akan ketidaksucian kita. Jika Anda merasa hidup Anda hancur, penuh kegagalan, dan kotor, Anda justru adalah orang yang sedang dicari oleh Yesus. Dia tidak kaget dengan dosa kita; Dia datang justru karena Dia tahu kita tidak bisa menyelesaikannya sendiri.

 

Ketiga, kasih yang menerima, tapi tidak membiarkan. Yesus datang memanggil orang berdosa, tetapi tujuannya jelas: "supaya mereka bertobat." Sering kali kita salah mengartikan kasih Tuhan. Tuhan menerima kita "apa adanya" saat kita datang kepada-Nya, tetapi Dia terlalu mengasihi kita jika membiarkan kita "tetap apa adanya." Panggilan Yesus adalah panggilan untuk perubahan arah hidup (metanoia). Kasih-Nya adalah kekuatan yang memampukan kita untuk meninggalkan dosa, bukan alasan untuk terus berbuat dosa.

 

Keempat, menilai sesama dengan mata Yesus. Orang Farisi melihat pemungut cukai sebagai "sampah" yang harus dijauhi. Yesus melihat mereka sebagai "pasien" yang harus disembuhkan. Bagaimana cara kita memandang orang-orang di sekitar kita yang hidupnya masih dalam kegelapan? Apakah kita memandang mereka dengan rasa jijik dan menghakimi, atau dengan belas kasihan? Jika kita adalah pengikut Kristus, maka komunitas kita (gereja/persekutuan) seharusnya menjadi tempat yang paling ramah bagi orang yang ingin berubah, bukan tempat yang eksklusif bagi mereka yang merasa sudah suci.

 

Kabar baiknya hari ini adalah: Tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak bisa dijangkau oleh panggilan Yesus. Namun, ada bahaya besar bagi mereka yang merasa sudah "cukup benar" sehingga merasa tidak butuh pertobatan lagi. Karena itu, mari kita datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan rindu untuk diubah, karena justru di sanalah Yesus sedang menunggu untuk memulihkan kita. (rsnh)

 

Selamat mengakhiri Maret dan terus berkarya untuk TUHAN

Comments